Visitor


Contact Me


Email : be_baby_face@yahoo.com

Followers

Samsung Galaxy Tab

Samsung Galaxy Tab.

Motorola

Motorola.

Galaxy Note

Galaxy Note.

Blackberry Dakota

Blackberry Dakota.

Apple iPhone

Apple iPhone.

Wednesday, November 20, 2013

Waktu Solat

Melihat semula gambar-gambar langit, matahari dan bulan yang diambil dengan lensa sendiri menggunakan kamera handset mahupun DSLR, sambil melihat juga langit melalui GoogleSky, salah satu perisian android di handset, tiba-tiba membuatkan terlintas mengenai waktu solat. Setiap waktu solat 5 waktu sehari semalam yang wajib kita tunaikan mempunyai perkaitan dengan kedudukan matahari.

Teringat waktu sekolah rendah dulu, ada juga ustazah terangkan bagaimana menentukan waktu solat dengan melihat matahari, langit dan juga bayang-bayang. Tapi faham-faham je lah, waktu tu masih kanak-kanak yang hanya tau main walaupun dalam kelas. Jadi apa yang ustazah terangkan tu sikit-sikit yang diingat.

Untuk mengelakkan mood tadi tergantung, maka terus je google. Kemudahan hari ini banyak membantu dalam mendapatkan maklumat. Tetapi walaupun mudah, kita jangan lupa juga untuk berguru. Kerana ulama pernah berpesan seandainya dalam agama kita berguru dengan buku, maka syaitan yang akan menjadi guru kita. Oleh itu walaupun maklumat agama ini mudah kita mendapatkannya di google, kita tidak boleh lupa untuk berguru dengan orang yang mursyid. Ini kerana dikhuatiri kita salah tafsir atau salah faham akan perkara yang kita baca itu. Tambahan pula dengan ilmu yang begitu cetek seperti saya, maka lebih mudah salah faham mungkin berlaku.

Saya berterima kasih kepada kedua ibubapa saya kerana tidak lupa menghantar saya serta adik beradik ke sekolah agama disamping sekolah akademik dan sains. Memang agak kurang menyeronokkan kerana sehari suntuk di sekolah pagi petang, tak lupa juga malam. Biasalah waktu kanak-kanak, nak main je kerjanya. Maka atas sebab itu juga dalam kelas pun digunakan kesempatan untuk bermain. Akibatnya takde la pandai sangat. Hahaha.....

Akan tetapi, Maha Suci Allah kerana menjadikan manusia ini makhluk yang hebat. Sungguh pun kita bermain dalam kelas, tetapi percakapan guru di hadapan masih tetap kita mampu tangkap. Patutlah orang tua-tua pesan, walaupun bayi itu kita lihat dia tidur sepanjang masa, tetapi sebenarnya dia belajar dari sekelilingnya. Alhamdulillah, setiap apa yang dibaca dari hasil carian di google sedikit sebanyak mengingatkan kembali sesi pembelajaran semasa sekolah rendah dulu.

Antara bahan yang menarik perhatian saya adalah dari http://fadhlihsan.wordpress.com/2011/06/14/cara-mudah-mengetahui-waktu-shalat-dilengkapi-gambar/

Di sini saya copy paste semula, mudah-mudahan menjadi nota buat diri saya sendiri.

Masuk waktu shalat, inilah salah satu syarat sahnya shalat fardhu. Maka shalat yang dikerjakan di luar waktu akan menjadi batal. Lalu bagaimana kita mengetahui waktu-waktu shalat sesuai petunjuk syariat? Berikut keterangannya.
1. Cara Mengetahui Waktu Dhuhur
Para ulama telah sepakat bahwa waktu dhuhur berawal ketika matahari sudah tergelincir (waktu zawal), sesuai dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam:
Artinya: “Dan waktu dhuhur dimulai ketika matahari telah tergelincir.” (HR. Muslim dari Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash)
Dan waktu dhuhur berakhir ketika masuk waktu ashar (ketika bayangan benda sepanjang aslinya). Hal ini sebagaimana hadits:
Artinya: “Dan waktu dhuhur adalah sebelum tiba waktu ashar.” (HR. Muslim dari Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash)
Untuk mengetahui waktu Dhuhur secara tepat maka bisa ditempuh cara-cara sebagai berikut:
1. Tancapkan tiang sepanjang 1 m (lebih panjang lebih baik) secara tegak lurus dengan bumi.
2. Buatlah lingkaran-lingkaran dengan tiang sebagai titik pusatnya, usahakan selisih diameter antara lingkaran tidak terlalu lebar (sehingga perhitungan lebih teliti).


• Lebih kurang pukul 11.30, muadzin harus mulai mengamati panjang bayangan pada lingkaran-lingkaran yang berpusat pada tiang. Akan didapati, bayangan akan semakin memendek dan sekaligus mengalami pergeseran sudut ke arah timur.
• Suatu saat bayangan tersebut akan mencapai titik jenuh selama beberapa saat (tidak memendek dan memanjang) dan hanya mengalami pergeseran sudut saja ke arah timur. Temponya lebih kurang 10 hingga 15 menit. Waktu ini disebut waktu karahah (waktu yang dilarang shalat padanya). Panjang bayangan di saat waktu karahah disebut fai’ zawal.
• Setelah melampaui waktu karahah, bayangan akan mulai memanjang. Dan inilah awal waktu dhuhur.
• Sedangkan akhir dari waktu dhuhur adalah ketika panjang bayangan sama panjang dengan tiang ditambah dengan fai’ zawal.
Sebagai catatan: arah bayangan dan panjang fai’ zawal berubah-ubah sesuai dengan posisi matahari saat penentuan waktu. Jika matahari condong ke arah selatan maka bayangan berpindah di sebelah utara. Jika posisi matahari tepat di arah timur maka panjang fai’ zawal 0 (nol). Wallahu a’lam.
2. Akhir Waktu Dhuhur
Adapun akhir waktu dhuhur adalah ketika panjang bayangan sama dengan bendanya (masuknya waktu ashar). Sesuai dengan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam:
Artinya: “Kemudian Jibril shalat dhuhur ketika bayangannya sama dengan benda.” (HR. Muslim dari Abdullah bin Amr bin ‘Ash)
Demikianlah hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam.
“Suatu hal yang berlebihan bagi orang yang tidak melakukan shalat sampai datangnya waktu shalat setelahnya.” (HR. Muslim dari Abu Qatadah)
3. Cara Mengetahui Waktu Ashar
Awal waktu ashar adalah akhir dari waktu dhuhur. Sesuai dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam:
Artinya: “Jibril shalat bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam dan para shahabatnya pada hari pertama ketika bayangannya sama dengan bendanya.” (HR. Muslim dari Abdullah bin Amr bin ‘Ash)
4. Akhir Waktu Ashar
Akhir waktu ashar ada dua macam:
1. Waktu ikhtiyari, yakni ketika bayangan benda dua kali panjang aslinya. Hal ini sesuai dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam:
Artinya: “Dan pada hari kedua Jibril shalat bersama mereka ketika bayangan dua kali lipat panjang bendanya. Kemudian dia mengatakan waktu ashar adalah diantara dua ini.” (HR. Muslim dari Abdullah bin Amr bin ‘Ash)
2. Waktu idlthirary (waktu terpaksa), yakni sampai tenggelamnya matahari. Hal ini sesuai dengan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam:
Artinya: “Barangsiapa yang mendapatkan satu rakaat sebelum matahari tenggelam berarti ia mendapatkan shalat ashar.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah)
Akan tetapi tidak sepantasnya seorang muslim menunaikan shalat ashar di akhir waktu (semisal jam 5 sore) kecuali jika terpaksa. Hal ini sesuai dengan perkataan Imam Ibnu Qudamah.
Shalat ashar di saat matahari telah berwarna kuning atau menjelang terbenamnya matahari merupakan ciri-ciri shalat orang yang munafik sesuai dengan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam:
Artinya: “Itu adalah shalat orang munafik 3x. Mereka duduk-duduk (menunggu matahari hendak terbenam) sehingga tatkala matahari berada di antara dua tanduk syaithan, dia lakukan shalat empat rakaat dengan cepat kilat ibarat ayam yang sedang mematuk, dia tidak berdzikir kepada Allah kecuali sedikit saja.” (HR. Muslim dari Anas bin Malik)
5. Cara Mengetahui Waktu Maghrib
Para ulama bersepakat bahwa waktu maghrib adalah ketika matahari terbenam, berlainan dengan orang-orang syi’ah yang menetapkan bahwa waktu maghrib berawal ketika bintang bersinar. Adapun caranya sebagai berikut:
1. Bila muadzin berada di pesisir menghadap ke barat maka pengamatan lebih mudah. Bundaran matahari akan terlihat dengan jelas ketika terbenam. Di saat itulah, waktu maghrib tiba.
2. Jika di arah barat terbentang gunung tinggi atau tembok yang menjulang, maka pengamatan bisa dilakukan dengan cara sebagai berikut:


Lihatlah ke arah timur. Pada bagian no. 1 langit terlihat lebih terang. Dan harus diingat di mana letak (ketinggian) matahari di kala terbit. Jika bagian yang berada di bawah (bagian no. 2) telah terlihat hitam (gelap) secara merata, maka sudah masuk waktu maghrib.
Jika rona gelapnya belum mendatar dan antara bagian no. 1 dan no. 2 belum ada perbedaan yang jelas antara dua bagian tadi maka belum masuk waktu maghrib.
Untuk meyakinkannya seorang muadzin bisa menghadap ke arah barat di atas bukit atau tembok tinggi. Jika sudah tidak ada lagi sinar dari arah barat berarti sudah masuk waktu maghrib, dan biasanya ditandai dengan warna kemerah-merahan di langit. Namun jika sinar masih ada, maka diperkirakan matahari belum terbenam, meskipun langit berwarna merah atau gelap sekalipun.
Adapun dalil tentang awal waktu maghrib adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam:
Artinya: “Dan waktu maghrib ketika terbenam matahari.” (HR. Bukhari no. 527 dan Muslim no. 1023 dari Jabir bin ‘Abdillah)
6. Akhir Waktu Maghrib
Adapun akhir waktu maghrib ketika terbenamnya warna kemerah-merahan di langit, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam:
Artinya: “Dan waktu maghrib adalah selama syafaq (warna kemerah-merahan) belum hilang.” (HR. Muslim no. 967 dari ‘Abdullah bin Amr bin Ash)
7. Awal Waktu Isya’
Adapun awal waktu isya’ adalah setelah hilangnya warna kemerah-merahan di langit sesuai dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam:
Artinya: “Adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam melakukan shalat isya’ ketika terbenamnya warna kemerah-merahan.” (HR. Muslim no. 969 dari Abu Musa Al Asy’ari)
8. Akhir Waktu Isya’
Adapun akhir waktu isya’ dibagi dua.
1. Waktu ikhtiyary (pilihan) ketika pertengahan malam. Sebagai misal, jika matahari terbenam pada pukul 6 sore dan terbit pada jam 6 pagi maka batas akhir waktu isya’ adalah pukul 12 malam. Hal ini sesuai dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam:
Artinya: “Dan waktu isya’ sampai pertengahan malam.” (HR. Muslim no. 967 dari Abdullah bin Amr bin Ash)
2. Waktu idlthirary (terpaksa) sampai masuknya waktu subuh, sesuai dengan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam:
Artinya: “Suatu hal yang berlebih-lebihan bagi orang yang tidak melakukan shalat sampai datangnya waktu shalat yang lain.” (HR. Muslim no. 1099 dari Abu Qatadah)
9. Cara Mengetahui Waktu Subuh
Adapun waktu subuh ketika terbitnya fajar shadiq, dan ini adalah kesepakatan para ulama, sesuai dengan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam:
Artinya: “Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam menunaikan shalat subuh ketika fajar merekah.” (HR. Muslim no. 969 dari Abu Musa Al Asy’ary)
Fajar ada dua macam yaitu fajar shadiq dan fajar kadzib (dusta).
Adapun fajar kadzib adalah seperti gambar berikut ini:



No. 1 (tempat terbit matahari) cahaya putih ke atas dan akan turun terus sampai akhirnya menyebar ke utara dan selatan sampai mendatar. Di saat tersebut (ketika fajar kadzib) no. 2 dan no. 3 masih dalam keadaan gelap.
Adapun fajar shadiq seperti gambar ini,



- No. 1 cahayanya putih mendatar. Ini menunjukkan fajar shadiq. Patokannya tergantung letak matahari ketika terbitnya.
- No. 2 kelihatan gelap/hitam. Warna gelap ini akan berangsur-angsur hilang dan berubah jadi warna putih.
10. Akhir Waktu Subuh
Akhir waktu subuh dibagi dua:
1. Ikhtiyary (pilihan) terus berlangsungnya waktu tersebut.
2. Idlthirary (terpaksa) sampai terbitnya matahari sesuai dengan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam:
Artinya: “Barangsiapa menjumpai rakaat sebelum terbitnya matahari sungguh telah menjumpai shalat subuh.” (HR. Bukhari no. 545 dan Muslim no. 656 dari Abu Hurairah)
11. Kapan Waktu Shalat yang Paling Utama
Di antara amalan yang paling dicintai Allah adalah shalat pada waktunya, yaitu di awal waktu, selain waktu tertentu yang dikecualikan. Pertama, yaitu shalat dhuhur ketika udara sangat panas menyengat maka yang afdhal adalah menunggu sampai suhu udara turun (berangsur dingin). Hal ini sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam:
Artinya: “Bila udara sangat panas terik maka tunaikanlah shalat tatkala udara mulai dingin.” (HR. Bukhari & Muslim dari Abu Hurairah)
Kedua, yaitu shalat isya’. Yang paling afdhal adalah mengakhirkannya hingga pertengahan malam. Berdasarkan hadits:
Artinya: “Nabi mengakhirkan shalat isya’ sampai pertengahan malam, kemudian keluar melakukan shalat kemudian berkata: seandainya kalau bukan karena kelemahan pada orang lemah, rasa sakit yamg diderita orang sakit atau keperluan orang-orang yang punya hajat maka aku akan akhirkan shalat isya’ hingga pertengahan malam.” (HR. Abu Daud no. 358 dan Ahmad no. 10592 dari Abu Sa’id Al Khudri)
Wallahu a’lam.
Referensi: Adzan Keutamaan, Ketentuan dan 100 Kesalahannya karya Al Ustadz Abu Hazim Muhsin bin Muhammad Bashori, penerbit: Pustaka Daarul Atsar, cet. Pertama Dzulhijjah 1426/ Januari 2006, hal. 123-136.


Wednesday, February 13, 2013

Muallaf - Kembali Pada Islam

Baru-baru ni, kebetulan dengan raya cina, ada orang share satu video dari YouTube, berkenaan seorang muslim, Razali yang bertemu dengan kawan lamanya yang berbangsa cina yang telah pun menjadi muslim, Yeo Wee Kiat. Walaupun lakonannya agak kekok dan tak berapa nak real, tapi content dan juga dialog dalam video ni menarik perhatian saya.




antara dialog best dalam video ni

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
R       : So, you nama apa sekarang?
YWK : Masih sama maaa... Yeo Wee Kiat.
R       : Aik? You tak tukar nama ke...
YWK : Tidak. Nape saya perlu tukar nama? Maksud nama saya suda baik maaa...
            Lagipun, saya kene jaga nama keluarga saya. My family name...
R       : Eh, boleh ke macam tu... Mana boleh...
YWK : Boleeeeeh... Sebenarnya agama Islam tidak memaksa orang yang masuk
           Islam tukar nama.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
R       : Lepas you masuk Islam.......
YWK : Bukaaaaan..... Kembali kepada Islam... Revert.....
R       : Aaaa..... Lepas you kembali kepada Islam, family ok ke...

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
R       : You tak rasa macam masuk melayu ke.....
YWK : Tak. Sebenarnya ramai yang tersalah anggap masuk Islam
            kene masuk melayu. Islam tu agama, melayu tu agama.
            Islam tu untuk semua.
R       : Yeke.....
YWK : Betuuul.....
R       : Abis tu kalau raya cina macam mana? Macam mana you mengelak?
YWK : Mengelak? Kenapa mau mengelak?

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~



Berkenaan dengan nama, ramai di kalangan kita menyangka sekiranya orang bukan Islam yang kembali kepada Islam perlu menukar nama kepada nama Islam atau lebih jelas lagi nama Arab.

Jika kita imbau kembali sejarah Islam, beberapa orang sahabat mengucap dua kalimah syahadah selepas kenabian Rasulullah s.a.w. Dan beberapa orang sahabat yang sempat menjadi penentang Rasulullah s.a.w. pada peringkat awal tetapi kemudiannya menjadi sahabat, seperti Umar al-Khatab. Mereka masih menggunakan nama asalnya tanpa mengubah kepada nama yang baru selepas mereka mengucap dua kalimah syahadah.

Walaubagaimanapun sekiranya nama asalnya membawa maksud yang tidak baik atau yang berkaitan nama dewa atau sembahan mereka sebelumnya, maka disunatkan untuk menukar namanya. Sekiranya tidak, mereka boleh mengekalkan namanya yang asal dan juga masih menggunakan BIN atau BINTI yang sama.

Bagi masyarakat Melayu, kebiasaannya nama baru mereka akan diBINkan atau diBINTIkan dengan Abdullah. Bukanlah bermaksud mereka itu akan menjadi anak Abdullah. Tetapi Abdullah itu membawa maksud hamba Allah. Walaubagaimanapun mereka berhak memilik untuk terus menggunakan nama asal mereka ataupun nama baru.

Menurut Sayyid Qutb, muallaf ialah golongan manusia yang kembali kepada Islam serta kekal dan beramal kepada Islam. Dikatakan kembali kepada Islam kerana fitrah kelahiran seseorang manusia itu semasa bayi adalah ibarat sehelai kain putih bersih. Ibubapa yang mencorak dan mewarnakan agama bayi itu. Seorang bayi yang dibesarkan dengan agama bukan Islam, dan akhirnya mengambil keputusan memeluk Islam setelah beliau baligh dan berakal, dianggap kembali kepada fitrah kejadiannya semasa bayi.

Golongan muallaf adalah golongan istimewa yang disebut beberapa kali di dalam al-Quran. Antaranya firman Allah s.w.t yang bermaksud :

“Sesungguhnya sedekah-sedekah (zakat) itu hanyalah untuk orang-orang fakir, dan orang-orang miskin dan amil-amil yang menguruskannya dan orang-orang muallaf yang dijinakkan hatinya dan untuk hamba-hamba yang memerdekakan dirinya, dan orang-orang yang berhutang, dan untuk dibelanjakan pada jalan Allah, dan orang-orang musafir (yang keputusan) dalam perjalanan. (Ketetapan hukum yang demikian itu ialah) sebagai satu ketetapan (yang datangnya) dari Allah.”
(Surah At-Taubah : 60)


Secara dasarnya, peruntukan tentang muallaf dan tatacara masuk Islam disebut secara khusus dalam Bahagian IX Akta Pentadbiran Undang-Undang Islam (Wilayah-Wilayah Persekutuan) 1993 (Akta 505), iaitu berkenaan kehendak-kehendak masuk Islam, tugas-tugas dan kewajipan-kewajipan seorang muallaf, pendaftaran Muallaf, Perakuan Masuk Islam, pengiktirafan muallaf sebagai orang Islam, kaedah menentukan sama ada orang yang tak didaftarkan ialah seorang muallaf, dan sebagainya.

Seksyen 95 Akta 505 tersebut memperuntukkan bahawa seseorang yang tidak beragama Islam boleh masuk Islam jika dia sempurna akal dan mencapai umur lapan belas tahun. Jika dia belum mencapai umur lapan belas tahun, ibu atau bapa atau penjaganya telah mengizinkan kemasukannya.

Seksyen 85 (1) Akta 505 tersebut mensyaratkan seseorang yang masuk Islam mestilah mematuhi kehendak-kehendak berikut, iaitu :- (a) orang itu mestilah mengucapkan dua kalimah Syahadah dalam bahasa Arab secara semunasabahnya jelas; (b) pada masa mengucap dua kalimah itu, orang itu mestilah sedar bahawa ia bermakna "Aku naik saksi bahawa tiada tuhan melainkan Allah dan aku naik saksi bahawa Nabi Muhammad S.A.W ialah Pesuruh Allah"; dan (c) pengucapan itu mestilah dibuat dengan kerelaan hati orang itu sendiri.

Seseorang yang tidak dapat bercakap boleh mengucapkan dua kalimah Syahadah dengan cara isyarat yang menunjukkan makna yang dinyatakan dalam perenggan (b) di atas.

Seseorang itu akan dianggap menjadi seorang Islam sebaik sahaja dia habis mengucapkan dua kalimah Syahadah, dan orang itu hendaklah selepas itu disebut sebagai seorang muallaf, dan tertakluk dengan tugas-tugas dan kewajipan-kewajipan yang sama seperti orang Islam yang lain. Seksyen 88 Akta 505 memberikan kuasa kepada Pendaftar Muallaf untuk menyelenggarakan suatu Daftar Muallaf dalam bentuk yang ditetapkan. Pendaftar Muallaf boleh mendaftarkan kemasukan Islam seseorang muallaf dengan mencatatkan nama dan butir-butir lain dalam Daftar Muallaf, termasuk tarikh masuk Islam.

Pendaftar Muallaf kemudiannya akan mengeluarkan Perakuan Masuk Islam kepada muallaf berkenaan, sebagai bukti dan rekod untuk simpanan muallaf berkenaan, serta untuk rekod simpanan pihak Jabatan Agama Islam.

Sebaik sahaja didaftarkan, maka muallaf itu adalah disifatkan sebagai seorang Islam, bagi maksud mana-mana undang-undang Persekutuan atau Negeri. Dan bagi menepati maksud dalam Perlembagaan, sebaik sahaja memeluk Islam dan didaftarkan, muallaf tersebut boleh dikategorikan sebagai berbangsa Melayu menurut tafsiran Perkara 160 Perlembagaan Persekutuan. Dia juga berhak menerima keistimewaan sebagaimana yang dinyatakan dalam Perlembagaan. Ini kerana Perkara 160 memperuntukkan bahawa "Orang Melayu" ertinya seseorang yang menganuti agama Islam, lazim bercakap bahasa Melayu, menurut adat Melayu. Seorang muallaf juga akan tertakluk di bawah Enakmen atau undang-undang Syariah yang di bawah bidangkuasa Mahkamah Syariah.

Seorang muallaf berhak untuk mendapat pendidikan, keselamatan, dan perlindungan, berhak mendapat bantuan kewangan atau zakat, berhak untuk menuntut penjagaan anak jika berlaku masalah dalam perkahwinan atau jika berlaku perceraian, mempunyai hak untuk meninggalkan dan diberikan harta pusaka, dan lain-lain sepertimana hak seorang yang Islam sejak lahir.

Memang tidak dinafikan, tiada sebarang peruntukan undang-undang yang mewajibkan mualaf untuk menukar nama kepada nama Islam dan menukar kad pengenalan dengan maklumat baharu setelah memeluk Islam. Namun, mereka perlu dinasihatkan untuk berbuat demikian di Jabatan Pendaftaran Negara, supaya tidak timbul masalah kemudian hari, terutama apabila berlaku perkahwinan atau kematian.

Sekiranya pindaan maklumat Islam tidak dipinda dalam kad pengenalan, akan menjadi kesukaran untuk menentukan status agama muallaf sekiranya mereka memohon sebarang bantuan kewangan, zakat atau bantuan-bantuan lain. Tambahan pula dalam sesetengah kes, seseorang mullaf pada asalnya mungkin masuk Islam di Wilayah Persekutuan, tetapi kemudiannya berhijrah ke negeri lain. Maka rekod asal kemasukan Islamnya berada dengan Pendaftar Muallaf di Wilayah Persekutuan. Kemungkinan besar rekodnya tidak berada di negeri tempat bermastatutinnya yang baru itu. Penulis percaya perlu diwujudkan satu sistem pendaftaran muallaf di peringkat pusat (center) yang mengawalselia dan menyimpan rekod pendaftaran serta maklumat semua muallaf di seluruh Negara.

Masalah juga akan timbul untuk menentukan hak keistimewaan orang tersebut sebagai seorang Melayu sebagaimana yang dinyatakan dalam Perlembagaan Persekutuan, sekiranya maklumat dalam kad pengenalan masih beragama bukan Islam.

Masalah selanjutnya akan timbul untuk menentukan bidangkuasa Mahkamah ke atas orang tersebut. Jika muallaf itu ditangkap atas kesalahan di bawah Akta Kesalahan Jenayah Syariah, maka dia boleh mendakwa sebagai bukan Islam supaya tidak dikenakan dakwaan, kerana butiran dalam kad pengenalannya tidak menyatakan status beragama Islam.

Walaupun Seksyen 92 Akta 505 tersebut menyatakan jika timbul pertikaian tentang status seorang muallaf, dan orang itu tidak didaftarkan dalam Daftar Muallaf atau di bawah mana-mana undang-undang Negeri lain sebagai seorang muallaf, akan tetapi persoalan itu hendaklah diputuskan berdasarkan kepada tatacara kemasukan Islam di peringkat awal. Masalah akan timbul jika rekod-rekod tentang kemasukan itu tidak dikemaskini, hilang atau saksi semasa upacara masuk Islam tersebut juga tidak dapat dikesan.

Justeru, walaupun tidak diwajibkan untuk meminda maklumat baru dalam kad pengenalan, kerajaan perlu menggalakkan muallaf untuk berbuat demikian sebaik sahaja Perakuan Masuk Islam dikeluarkan. Walaupun bukan menjadi kewajipan untuk menukarkan nama, asalkan nama tersebut mempunyai maksud yang baik, namun sekurang-kurangnya maklumat tentang agama baharu perlu dimasukkan dalam kad pengenalan muallaf berkenaan. Suatu tindakan kecil pada masa sekarang, yang boleh mengelakkan mudarat yang lebih besar pada masa akan datang. Wallahu’alam.



Ada juga kadang kala kita mendengarkan dialog muslim kepada muallaf yang menanyakan "bila kau masuk Islam?"

Sekiranya ayat ini diterjemahkan dalam Bahasa Inggeris, ia berbunyi "when did you convert to Islam?"

Sebenarnya agak kurang sesuai perkataan convert atau yang membawa maksud yang sama itu digunakan. Ini kerana kita perlu ingat semula fitrah asal kejadian kita, asal kejadian semua manusia tidak kira apa agama mereka dilahirkan dan dibesarkan. Asalnya semua adalah sama, iaitu mengEsakan Allah s.w.t.

Masih ingatkah lagi ustaz atau ustazah ada bercerita bagaimana kejadian dan kelahiran manusia. Sebaik sahaja benih kedua ibubapa kita tersenyawa, selepas 3 bulan di dalam kandungan baru ditiupkan roh ke dalam janin tersebut. Sebelum itu rohnya masih di alam Malakut. Di sana, sebelum ditiupkan ke dalam janin, kesemua roh ini telah pun bersaksi bahawa Tiada Tuhan yang Layak Disembah Melainkan Allah dan Muhammad itu Pesuruh Allah. Berikrar akan terus mengEsakan Allah. Selepas ikrar tersebut barulah ditiupkan ke dalam janin. Maka agama apakah roh-roh ini? Tentunya Islam kerana telah bersyahadah dan berserah diri kepada Allah. Secara fitrahnya kesemua makhluk asalnya mengEsakan Allah, kesemuanya muslim.

Akan tetapi selepas ditiupkan roh, kemudian lahir ke dunia, masing-masing hidup dengan suasana dan persekitaran yang berbeza. Bagi yang lahir dalam keluarga yang mengamalkan cara hidup Islam, insyaaAllah mereka akan terus hidup sebagai muslim. Namun bagi yang lahir dalam keluarga bukan Islam, mereka cenderung untuk lupa ikrar mereka semasa di alam Malakut. Lupa untuk mengEsakan Allah. Terus terikut dengan cara hidup bukan Islam. Sebenarnya mereka yang convert ke agama lain sedangkan asal kejadian mereka adalah muslim.

Maka kerana itu apabila mereka diberi hidayah, mereka kembali kepada Islam semula. Bukanlah mereka itu masuk Islam atau dalam istilah Inggeris disebut convert to Islam. Sebenarnya mereka itu kembali semula kepada Islam atau dalam istilah Inggeris disebut revert. Mereka kembali menjadi muslim.

Bagi kita yang muslim mungkin kita anggap penggunaan bahasa atau ayat atau istilah convert dan  revert ini adalah sesuatu yang remeh. "Sama je maksudnya... Pokoknya diorang kan orang kafir pastu masuk Islam". Akan tetapi ia amat bermakna buat mereka. Bayangkan orang yang sesat tidak tahu ke mana arah hendak dituju, tiba-tiba mendapat petunjuk dan hidayah. Arah tuju menjadi jelas. Betapa nikmatnya mereka rasakan. Sebelumnya jalan dan penunjuk jalan yang mereka gunakan memberikan arah yang salah yang membuatkan mereka semakin sesat. Petunjuk atau hidayah yang benar itu bagaikan satu nafas atau nyawa baru bagi mereka dalam meneruskan perjalanan ke arah destinasi yang sebenar.

Kita terlupa hakikat ini. Ini kerana kita yang muslim kononnya lahir-lahir sudah berada pada jalan yang benar. Berada pada lorong dan laluan yang betul, lengkap dengan penunjuk arah jalan. Bukan jalan yang tidak tentu arah tujunya. Bagi yang lahir ke dunia dalam suasana Islam tidak merasakan hidayah yang Allah berikan sebagaimana mereka yang lahir dalam suasana bukan Islam kemudian kembali semula menjadi muslim. Ianya membuatkan saya begitu bersyukur kerana dilahirkan dalam keluarga Islam dan suasana Islam. Belum tentu ada jaminan yang saya akan mendapat hidayah sekiranya saya dilahirkan bukan dalam keluarga atau suasana Islam.

Hamba begitu bersyukur padaMu Ya Allah.....


Kita juga sering keliru dengan beberapa perkara yang mana kita berpendapat bahawa muallaf ini tidak boleh lagi mengamalkan cara hidup lama sebagai contoh perayaan atau adat. Mana-mana perayaan atau adat mereka sebelum ini yang tidak bercanggah dengan Islam, masih boleh diteruskan. Kita perlu kenal pasti mana perayaan yang berlandaskan agama dan mana perayaan yang berlandaskan budaya. Sekiranya ia berlandaskan agama, maka muallaf perlu meninggalkan amalan tersebut kerana ia melibatkan dengan aqidah.

Orang Melayu tak perlu sombong sangat. Berdasarkan sejarah, agama asal kaum Melayu adalah Hindu. Sebab itu ada jika kita lihat ada beberapa perkara dalam adat kita yang kelihatan agak mirip dengan agama Hindu. Sebagai contoh orang Melayu agak sinonim dengan pelita.

Tak perlu sombong. Janganlah mengganggap kalau Melayu mesti Islam, kalau Islam tu Melayu. Melayu itu bangsa, Islam itu agama. Islam adalah untuk semua. Kerana asal kejadian manusia, asal roh kita semua sama. Semuanya telah berikrar dengan Allah untuk mengEsakanNya. Godaan dan cubaa serta kemungkaran di muka bumi ini yang menyebabkan kita terlupa dengan ikrar kita pada Allah samada dalam keadaan kita sedar atau pun tidak sedar, sengaja atau tidak sengaja.

Saya sangat kagum dengan muallaf. Ia bukan satu perkara yang mudah buat mereka. Sudah tentu akan berlaku pergeseran antara mereka dan keluarga mereka terutama kedua ibu bapa mereka. Seawal itu keimanan mereka diuji.

Allah s.w.t. telah mengingatkan kita untuk terus menghormati dan melayan kedua ibu bapa kita sebaiknya biarpun sekiranya mereka menyuruh kita berbuat perkara yang dilarang termasuk mempersekutukan Allah atau kafir.


Dan Kami wajibkan manusia berbuat baik kepada kedua ibubapanya ibunya telah mengandungnya dengan menanggung kelemahan demi kelemahan (dari awal mengandung hingga akhir menyusunya) dan tempoh menceraikan susunya ialah dalam masa dua tahun (dengan yang demikian) bersyukurlah kepadaKu dan kepada kedua ibubapamu dan (ingatlah), kepada Akulah jua tempat kembali (untuk menerima balasan). Dan jika mereka berdua mendesakmu supaya engkau mempersekutukan denganKu sesuatu yang engkau - dengan fikiran sihatmu - tidak mengetahui sungguh adanya, maka janganlah engkau taat kepada mereka dan bergaullah dengan mereka di dunia dengan cara yang baik. Dan turutlah jalan orang-orang yang rujuk kembali kepadaKu (dengan tauhid dan amal-amal yang salih). Kemudian kepada Akulah tempat kembali kamu semuanya, maka Aku akan menerangkan kepada kamu segala yang kamu telah kerjakan.
(surah Luqman : 14-15)



Maka tidak salah untuk mereka terus bersama dengan keluarga mereka biar pun berlainan agama, masih boleh merayakan perayaan bersama-sama asalkan tidak bercampur perkara-perkara yang mempersekutukan Allah.

Wallahu a'lam


Kita sebagai muslim, perlu membantu saudara atau rakan kita yang baru mengenal Islam. Bagi yang baru hendak berjinak-jinak, kita bantu supaya hasrat mereka itu tidak terhenti. Sekurang-kurangnya kita bantu agar hidayah Allah itu akan terus memancar di hati mereka sehingga akhirnya mereka kembali semula kepada Islam sebagaimana mereka belum dilahirkan.

Sesungguhnya mereka itu bagaikan bayi yang baru dilahirkan, bagaikan kain putih yang bersih, tidak mempunyai sebarang dosa sebaik sahaja mereka mengucap syahadah. Andai kata mereka menghembuskan nafas yang terakhir sebaik sahaja bersyahadah, mereka akan terus ke syurga kerana mereka sebersih bayi yang baru lahir dan tiada dosa. Bahkan dikhabarkan lagi sekiranya mereka pernah membuat sebarang kebaikan, ianya tetap akan dikira pahala walaupun ianya dilakukan sewaktu mereka masih kafir, sedang dosa mereka dihapuskan semuanya.

Mereka lebih bersih berbanding kita yang dilahirkan dan dibesarkan di dalam keluarga dan suasana Islam.

Kita semua memang asalnya Muslim. Muslim adalah orang Islam.

We are all originally Muslims.....


Monday, February 11, 2013

Astaghfirullah Robbal Baroya - Gitar





Astaghfirullah robbal baroya 
Astaghfirullah minal khothoya 


Astaghfirullah robbal baroya 
Astaghfirullah minal khothoya


Robbi zidni ilman nafi'a 
Wawaffiqli amalan maqbula 
Wa habli rizqan wa-sia 
Watub alaina taubatan nasuha
Watub alaina taubatan nasuha


Astaghfirullah robbal baroya 
Astaghfirullah minal khothoya



~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Maksud

Aku memohon ampun Ya Allah, Maha Penerima Taubat, 
Aku memohon ampun Ya Allah daripada segala dosa

Aku memohon ampun Ya Allah, Maha Penerima Taubat,
Aku memohon ampun Ya Allah daripada segala dosa


Tambahkan kepadaku ilmu yang berguna, 
Berikanlah aku amalan yang dimakbulkan, 
Kurniakan kepadaku rezeki yg meluas, 
Terimalah taubat kami dgn taubat nasuha,
Terimalah taubat kami dgn taubat nasuha…

Aku memohon ampun Ya Allah, Maha Penerima Taubat,
Aku memohon ampun Ya Allah daripada segala dosa



Friday, January 25, 2013

Doa Pagi - Gitar

Aritu pergi kenduri kesyukuran orang kahwin, ada persembahan zapin. Yang menari tu menarilah. Yang main muzik pun ada. Teringat lak kat Johor dulu biasa jugak dengar zapin ni di kampung-kampung. Maka terlekat la sekejap bunyi-bunyi muziknya itu.

Entah macam mana, boleh pulak tercelaru dengan nasyid ke apa entah. Tengah-tengah lepak petik-petik gitar tu, sekali macam biasa pulak dengar iramanya. Rupa-rupanya Do'a Pagi yang dialunkan oleh kumpulan nasyid Hijjaz.





Bismikalla humma nad’u…. 
fi ghuduwwi wa rowa… 
laka minna kullu hamdin… 
fi masaa in wa shobah… 

hablana minka rosyada… 
wahdina subulas sholah… 
inna takwallahi nuurun... 
wa thoriiqun lil falah… 



(terjemahan)

Dengan namaMu Ya Allah… 
kami meminta pada waktu pagi dan petang… 
bagiMu segala pujian 
pada waktu pagi dan petang… 

kurniakan kepada kami dari sisiMu petunjuk… 
tunjukkan kami jalan kebaikan… 
Sesungguhnya ketakwaan kepada Allah adalah Cahaya 
dan Jalan menuju kejayaan…



Thursday, January 24, 2013

Ya Nabi Salam Alaika - Gitar

Kebetulan dengan sambutan Maulidur Rasul, maka kerap kedengaran selawat-selawat di radio. Begitu juga di wall Facebook yang mana ramai rakan-rakan mengupdate status dengan selawat juga tak ketinggalan mengshare video-video selawat.

Sedap mendengar selawat, terletak iramanya walaupun sedang bermain gitar. Dengan tak sengaja, sedang duduk-duduk bermain gitar maka terpetik la gitar mengikut irama salah satu selawat.





Cahaya Selawat - Gitar 


Ya nabi salam alaika 
Ya rasul salam alaika 
Ya habib salam alaika 
Solawatullah alaika 

Ya rasul kau bawa cahaya 
Menyinari alam buana 
Bumi tandus subur kembali 
Rasa gembira di hati 

Lahirmu membawa rahmat 
Memimpin ke jalan selamat 
Akhlakmu yang sungguh memikat 
Contoh buat seluruh umat 

Mulianya pengorbananmu 
Kebaikan yang kau seru 


Mulianya pengorbananmu 
Kebaikan yang kau seru


Biarpun halangan menimpa 
Namun dirimu tetap tabah 


Biarpun halangan menimpa 
Namun dirimu tetap tabah 


Ya Muhammad yang berjasa 
Quran dan sunnahlah pusaka 
Menjadi panduan manusia 
Untuk hidup aman sentosa 

Ya nabi salam alaika 
Ya rasul salam alaika 
Ya habib salam alaika 
Solawatullah alaika


Wednesday, January 2, 2013

Ali Baba Bujang Lapuk - Gitar





Ali Baba Bujang Lapuk


Wahai ali baba orang yang budiman
murah hatinya kepada tiap insan
banyak harta ratus ribu orang kaya baru
hidup mewah hati senang dan banyak wang

wahai ali baba kacak dan lawa
manis budi bahasa bijaksana…
alibaba… ahhhh….
kepada orang kaya disambut dengan suka
terhadap miskin hina dipandang sama

ya habibi ali baba ,ya habibi ali… ( 4x)
ya ali baba ya ali baba (2x)

penyamun:
ya habibi ali baba ,ya habibi ali… ( 4x)
ya ali baba ya ali baba (2x)
ya habibi ali baba ,ya habibi ali… ( 4x)
ya ali baba ya ali baba (2x)

Syair:
Cilakaaa..aaa… punya penyamuuun.. sial!
bikin rosaklah ana punya program


Wednesday, December 26, 2012

Pertikaian Banjir Besar Nabi Nuh a.s.

Majoriti manusia yang hidup hari ini begitu juga dengan manusia yang hidup beribu-ribu tahun sebelum ini juga mengetahui akan berlakunya peristiwa Banjir Besar Nabi Nuh a.s. Peristiwa ini bukan sahaja diakui oleh penganut agama Islam malah ia juga turut diakui oleh penganut agama lain seperti Kristian, Yahudi, Buddha, Hindu dan lain-lain agama lagi yang wujud di muka bumi. Mereka ini percaya bahawa pernah berlaku kejadian banjir besar yang menenggelamkan satu dunia. Yang berbeza mungkin pada sebutan nama nakhoda (captain) kapal yang selamat dalam peristiwa banjir besar tersebut. Ada yang memanggilnya Nuh, ada yang memanggilnya Noah dan berbagai panggilan lagi. Berikut merupakan beberapa versi berkaitan Banjir Besar Nabi Nuh a.s. mengikut kitab agama lain.



Versi Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru
Tuhan memerintahkan kepada Nuh bahwa semua orang, kecuali para pengikutnya, akan dihancurkan karena bumi telah oenuh dengan berbagai macam tindak kekerasan. Tuhan memerintahkan mereka untuk membuat sebuah perahu dan menyebutkan secara detail bagaimana cara mengerjakannya. Tuhan juga mengatakan kepadanya untuk membawa serta keluarganya, tiga anaknya, istri-istri anaknya, dua dari setiap mahkluk hidup (sepasang), dan berbagai persediaan bahan pangan.
Tujuh hari kemudian, terjadilah banjir besar yang berlangsung selama 40 hari 40 malam. Setelah air surut, perahu itu berlabuh di puncak gunung Ararat (Agri)


Babilonia
Ut-Napishtim adalah persamaan tokoh bangsa Babilonia terhadap pahlawan dalam peristiwa banjir dalam kisah bangsa Sumeria, yaitu Ziusudra. Tokoh penting yang lain adalah Gilgamesh.
Menurut legenda, Gilgamesh memutuskan untuk mencari dan menemukan para leluhurnya agar mengungkapkan rahasia kehidupan yang abadi. Ia melakukan sebuah perjalanan yang menentang bahaya. Ia diperintahkan supaya melakukan perjalanan melewati “Gunung Mashu dan Air Kematian”, dan sebuah perjalanan yang hanya dapat diselesaikan oleh seorang anak tuhan bernama Shamash.
Gilgamesh bertanya kepada Ut-Napishtim bagaimana ia dapat memperoleh keabadian. Lalu, Ut-Napishtim menceritakan kepadanya kisah tentang banjir sebagai jawaban atas pertanyaannya. Banjir juga diceritakan dalam kisah Duabelas Meja (twelve tables) yang terkenal dalam epik tentang Gilgamesh


India
Dalam epik India yang berjudul Shatapa Brahmana dan Mahabharata, seseorang yang disebut dengan Manu diselamatkan dari banjir bersama dengan Rishiz.
Menurut legenda, seekor ikan yang ditangkap dan diselamatkan oleh Manu, tiba-tiba berubah menjad besar dan mengatakan kepadanya untuk membuat sebuah perahu dan mengikatkan perahu tersebut ke tanduknya. Ikan ini dilambangkan sebagai penjelmaan dari Dewa Wisnu. Lalu, ikan tersebut menuntun kapal mengarungi ombak yang besar dan membawanya ke utara ke Gunung Hismavat.


Wales
Menurut legenda Welsh dikatakan, Dwynwen dan Dwfach selamat dari bencana yang besar dengan sebuah perahu. Ketika banjir yang amat mengerikan terjadi setelah meluapnya Llynllion, yang disebut dengan Danau Gelombang. Setelah selamat, keduanya kemudian kembali dan menghuni daratan Inggris.


Cina
Sumber di bangsa Cina menghubungkan cerita ini dengan seseorang yang dipanggil dengan nama Yao bersama dengan tujuh orang lain, atau Fa Li bersama dengan istri dan anak-anaknya. Mereka diselamatkan dari bencana banjir dan gempa bumi dalam sebuah perahu layar. Disni dikatakan, “Dunia semuanya berada dalam kehancuran. Air menyembur dan menutupi semua tempat”. Akhirnya, air surut.


Lithuania
Diceritakan bahwa beberapa pasang manusia dan binatang, diselamatkan dengan berlindung di puncak permukaan gunung yang tinggi. Ketika angin dan banjir yang berlangsung selama 12 hari 12 malam tersebut mulai mencapai ketinggian gunung, dan hampir akan menenggelamkan yang ada di atas puncak gunung tersebut, Sang Pencipta melemparkan sebuah kulit kacang raksasa kepada mereka. Sehingga, mereka yang berada di atas gunung tersebut diselamatkan dari bencana dengan berlayar di dalam kulit kacang raksasa ini.


Yunani
Dewa Zeus memutuskan untuk menghancurkan orang-orang yang semakian berbuat kesesatan setiap saat memlalui sebuah banjir. Hanya Deucalion dan istrinya, Pyrrha, yang diselamatkan dari banjir karena ayah Deucalion sebelumnya telah menyarankan anaknya untuk membuat sebuah bahtera. Pasangan ini turun ke Gunung Parnassis pada hari kesembilan setelah turun dari bahtera.


Skandinavia
Legenda Nordic Edda menyebutkan tentang Bergalmir dan istrinya, yang selamat dari banjir dengan sebuah kapal besar.





Seperti biasa, peristiwa besar yang memperlihatkan kekuatan dan kekuasaan Allah akan sentiasa dipertikaikan oleh golongan yang tidak percayakan agama atau tuhan. Mereka dikenali sebagai Atheist. Mereka akan menggunakan logik akal mereka sepenuhnya dengan pengetahuan sains yang ada pada mereka sepenuhnya untuk mempertikaikan mana-mana perkara yang di luar pengetahuan logik akal dan sains mereka. Sedangkan ilmu Allah itu sangat luas. Segala yang berlaku biarpun dengan kehendak Allah, in-shaa-Allah tetap akan mempunyai penjelasan saintifik. Hanya akal manusia pada satu-satu masa itu agak terhad sehingga belum mampu memjelaskannya. Sebagaimana perjalanan Nabi Muhammad s.a.w. dari Mekah ke Baitul Maqdis yang hanya sekelip mata sahaja. Dunia sains hari ini sudah ada penjelasannya yang mana ianya dipanggil teleport. Sungguhpun belum ada lagi alat atau penggunaannya hari ini tetapi dunia dapat menerimanya berdasarkan penerangan sains hari ini. 

Walaubagaimanapun akhir-akhir ini bukan sahaja golongan atheist sahaja yang mempertikaikannya tetapi juga sebilangan umat Islam. Bukan sekadar entri-entri atau tulisan-tulisan di internet seperti di facebook atau di blog atau di YouTube malah ada juga buku yang terbitkan yang mengulas mengenai polemik ini. Bukanlah kerana tidak mempercayai kekuasaan Allah tetapi bukti-bukti sains yang mereka temukan seolahnya ada pendapat yang menyatakan bahawa ia hanya berlaku pada kawasan tertentu sahaja iaitu kawasan Nabi Nuh a.s. berdakwah. Sedangkan sebelum-sebelum ini kita sedia maklum bahawa banjir tersebut berlaku secara keseluruhannya ke atas semua muka bumi. Kerana itu juga ianya dipanggil Banjir Besar.


Maksud ayat al-Quran

Dan tidaklah menjadi kebiasaan Tuhanmu membinasakan mana-mana negeri sebelum Ia mengutus ke ibu negeri itu seorang Rasul yang akan membacakan kepada penduduknya ayat-ayat keterangan Kami dan tidaklah menjadi kebiasaan Kami membinasakan mana-mana negeri melainkan setelah penduduknya berlaku zalim.
(al-Qasas : ayat 59)



Allah tidak akan memusnahkan satu-satu kaum itu melainkan setelah diutuskan Rasul untuk disampaikan ayat-ayat Allah kepada mereka dan menyeru mereka kepada Allah. Berdasarkan ayat ini maka ada pendapat mengatakan bahawa tidak adil sekiranya Allah membinasakan seluruh umat manusia sedangkan hanya umat Nabi Nuh a.s. sahaja yang diutuskan Rasul dan kemudian mereka menentangnya.



Maksud ayat al-Quran

Disebabkan dosa-dosa dan kesalahan mereka, mereka ditenggelamkan (dengan bah taufan), kemudian (pada hari akhirat) dimasukkan ke dalam neraka maka mereka tidak akan beroleh sebarang penolong yang lain dari Allah (yang dapat memberi pertolongan). Dan Nabi Nuh (merayu lagi dengan) berkata: "Wahai Tuhanku! Janganlah Engkau biarkan seorangpun dari orang-orang kafir itu hidup di atas muka bumi! Kerana sesungguhnya jika Engkau biarkan mereka (hidup), nescaya mereka akan menyesatkan hamba-hambaMu, dan mereka tidak akan melahirkan anak melainkan yang berbuat dosa lagi kufur ingkar.
(Nuh : ayat 25-27)


Nabi Nuh a.s. memohon kepada Allah supaya dilenyapkan semua orang kafir di muka bumi ini pada ketika itu. Ada pendapat mengatakan bahawa Nabi Nuh a.s. hanya bermaksud 'semua orang kafir' itu adalah kaumnya sahaja yang mana menentang baginda pada ketika itu.

Bukti arkeologi pula menunjukkan bahawa kawasan sekitar Mesopotamia sahaja yang dikatakan pernah mengalami satu banjir besar yang mana ianya dikatakan kawasan Nabi Nuh a.s. dan juga kaumnya hidup ketika itu.



Sumber internet

Dapat dilihat gambaran yang cuba dijelaskan hasil arkeologi yang mereka temukan yang mana terdapat satu lapisan lumpur yang menutupi bukti peninggalan tamadun sebelum berlaku banjir besar tersebut.

Berdasarkan keadaan geografi pula yang mana Mesopotamia ini terletak di antara sungai Euphrates dan Tigris. Banjir besar dikatakan berpunca air melimpah daripada kedua-dua sungai ini.



Sumber internet


Boleh dilihat pada atlas atau GoogleMap atau apa-apa rujukan yang boleh menunjukkan bentuk muka bumi untuk dijadikan rujukan. Sungai ini akan terus menuju ke Teluk Parsi jika dilihat di peta dunia. Di bahagian utara sungai ini pula terdapat laut yang berdekatan iaitu Laut Hitam dan juga Caspian. Sekiranya berlaku ombak besar atau tsunami di kedua-dua laut ini, tidak mustahil juga sekiranya air laut ini boleh melimpah dan membanjiri kedua-dua sungai Euphrates dan Tigris sehingga menyebabkan banjir besar di Mesopotamia.


Berikutan kajian yang dilakukan ini, terdapat satu versi baru yang mana ianya dari pentaakulan hasil kajian saintifik yang telah dilakukan. Versi ini merupakan versi sains barat. Berdasarkan pentaakulan mereka setelah meneliti kesemua bukti yang diperolehi, Noah dikatakan bukan seorang miskin tetapi seorang bangsawan atau seorang pedagang. Adalah perkara biasa bagi seorang bangsawan atau pedagang untuk memiliki kapal. Bagi melancarkan proses pengangkutan barang-barang dagangan, menggunakan jalan air adalah lebih murah berbanding menggunakan jalan darat. Maka bukan suatu perkara yang asing sekiranya Noah ini memuatkan kesemua barang-barang dagangannya seperti makanan, minumam, haiwan ternakan dan lain-lain lagi berkaitan dengan tujuan keluar berdagang ke dalam kapal. Tidak hairan juga sekiranya Noah membawa keluarganya turut serta dalam kapalnya.

Satu hari hujan turun dengan lebatnya maka kelam kabut mereka sekeluarga memuatkan kapalnya dengan segala barang dagangan termasuk ternakan. Hujan yang terlampau lebat sehingga menyebabkan air sungai melimpah sehingga keesokan harinya setelah hujan berhenti, mereka dapati bahawa keliling mereka hanyalah air. Tiada daratan. Banjir besar. Kebetulan pada ketika itu kemungkinan Noah menghadapi krisis kewangan. Pada zaman itu, sesiapa sahaja yang berhutang dan tidak mampu melunaskannya, secara automatik akan menjadi hamba kepada orang yang memberinya hutang. Muflis atau bankrap bermakna menjadi hamba. Dengan itu Noah sekeluarga memanfaatkan keadaan ini untuk melarikan diri dengan kapalnya. Setelah jauh berlayar maka akhirnya banjir mula surut dan mendaratlah mereka di satu tempat yang sangat jauh daripada tempat asal mereka. Mereka pun memulakan hidup baru.

Begitulah kononnya kisah yang berlaku berkenaan dengan kisah banjir besar Noah. Itulah juga versi yang terkini yang terhasil dari kajian sains yang telah mereka lakukan.


Akan tetapi umat Islam tidak seharusnya percaya seratus peratus dengan cerita mengikut versi mereka kerana kita mempunyai al-Quran dan Hadith untuk dijadikan sebagai rujukan. Walaubagaimanapun kemungkinan fenomena banjir itu yang diterima oleh sebilangan muslim, iaitu Banjir Besar Nabi Nuh a.s. adalah banjir besar domestik sahaja iaitu melibatkan satu kawasan kerajaan dan bukanlah banjir global yang melibatkan satu dunia.


Sungguhpun begitu, terdapat sebilangan ahli sains yang masih ingin terus mempercayai bahawa banjir besar itu melibatkan seluruh muka bumi. Mereka masih meneruskan kajian bagi membuktikannya. Sekiranya rajin mencari menggunakan teknologi internet yang mana segala maklumat berada di hujung jari, mungkin boleh ditemukan pembentangan-pembentangan yang dibuat bagi membuktikan kebenaran kejadian Banjir Besar Nabi Nuh a.s. dari sudut sains.

Sekiranya anda merupakan seorang yang mempunyai banyak masa yang terluang melihat peta dunia samada melalui atlas atau GoogleMap atau mana-mana sumber yang membolehkan anda melihat bentuk muka bumi secara terperinci, anda mungkin dapat mengesan sesuatu padanya. Kita dapat lihat mana bahagian yang paling tinggi, bahagian paling rendah di permukaan tanah. Begitu juga dengan permukaan laut, bahagian mana yang lurah, berbukit-bukit, yang dalam, yang cetek dan sebagainya.

Anda mungkin akan perasan sesuatu bahawa di beberapa bahagian di bahagian laut dalam, terdapat seolah-olah bukit dalam laut yang membentuk seperti satu luka besar atau terkoyak kemudian dijahit. Dengan kata lain, seolah-olah kulit kita koyak besar kemudian dijahit 24 ke 50 ke..... Seakan-akan permukaan laut itu pernah terkoyak dan sudah tentu mengakibatkan sesuatu dan juga mengeluarkan sesuatu. Antara kesan yang tidak dinafikan akan berlaku adalah tsunami. Dengan skala kesan koyak yang dapat dilihat di peta, saiz koyakan tersebut agak besar dan panjang. Sedangkan gempa atau letusan satu gunung berapi dalam laut yang kecil sahaja sudah cukup untuk menyebabkan tsunami seperti yang kita ketahui pernah melanda Acheh dan juga Fukushima Daiichi. Contoh mudah kerana banyak video yang boleh dilihat bagaimana ombak tersebut menelan bumi. Bagaimana besar agaknya tsunami yang berlaku hasil dari koyakan yang dapat lihat di peta itu. Koyakan itu bukan kecil kerana ia jelas kelihatan. Di Lautan Atlantik sahaja dapat diperhatikan terdapat koyakan dari Greenland sehingga Amerika Selatan. Dapat dikesan juga kesan koyakan ini di bahagian lain.

Impak dari letusan itu sekiranya digambarkan bukan sahaja menyebabkan tsunami malah mungkin boleh digambarkan seperti letupan air berlaku di bumi. Tidak hairan sekiranya berlaku hujan yang sangat dahsyat dan ombak menelan bumi.



video


Animasi tersebut menggambarkan bagaimana proses tersebut berlaku menyebabkan air di permukaan bumi dan juga air yang berada di bawah lapisan permukaan bumi keluar membanjiri bumi. Ada sebahagiannya yang terkeluar dari atmosfera bumi berikutan terlalu kuat letusan yang berlaku. Sebahagiannya menjadi komet dan membasahi asteroid berdekatan. Kita boleh dapati bahawa komet terdiri daripada bongkah ais yang mengeliling bumi dengan satu orbit yang sangat besar sehingga menjangkau beberapa planet dan sebahagiannya jatuh kembali ke bumi. Ada juga batu-batu yang dilitupi ais yang jatuh ke bumi. Ianya masih lagi dapat kita lihat sehingga hari ini. Batu-batu meteor dan komet yang jatuh menghujani bumi biarpun sehingga hari ini. Tercampak jauh semasa kejadian tersebut.

Sebahagian ketulan ini membawa hidupan kecil seperti serangga dan bakteria yang mana terperangkap dan terbeku. Dengan kata lain mereka sebenarnya pulang semula ke bumi. Boleh jadi juga beberapa haiwan lain dengan tanah batu yang dipijak ketika itu turut tercampak bersama air kemudian membeku pada aras atmosfera tertentu dan kemudian jatuh kembali ke bumi. Kemudiannya perlahan-lahan cair kembali dan menyambung kehidupan seperti sediakala.


Maksud ayat al-Quran

(Nabi Nuh terus bekerja) sehingga apabila datang hukum Kami untuk membinasakan mereka dan air memancut-mancut dari muka bumi (yang menandakan kedatangan taufan), Kami berfirman kepada Nabi Nuh: "Bawalah dalam bahtera itu dua dari tiap-tiap sejenis haiwan (jantan dan betina) dan bawalah ahlimu selain daripada orang yang telah ditetapkan hukuman azab atasnya (disebabkan kekufurannya), juga bawalah orang-orang yang beriman". Dan tidak ada orang-orang yang beriman yang turut bersama-samanya, melainkan sedikit sahaja.
(Hud : ayat 40)


Maka Kami bukakan pintu-pintu langit, dengan menurunkan hujan yang mencurah-curah. Dan Kami jadikan bumi memancarkan mataair-mataair (di sana sini), lalu bertemulah air (langit dan bumi) itu untuk (melakukan) satu perkara yang telah ditetapkan.
(al-Qamar : ayat 11 -&12)


Ayat ini menggambarkan air yang datang dari langit dan bumi untuk menenggelamkan permukaan bumi.

Ada beberapa pendapat menyatakan bahawa maksud lain dari ayat 40 surah Hud bermaksud air terpancar dari dapur. Ada pendapat menyatakan dapur itu merupakan bumi kerana kita sedia maklum bahawa teras bumi ini merupakan satu bahagian yang sangat panas. Seolah-olah dapur yang memasak lapisan atasnya. Ini dapat dilihat pada terjemahan ayat tersebut dalam Bahasa Inggeris :

(So it was) till then came Our Command and the oven gushed forth (water like fountains from the earth). We said: "Embark therein, of each kind two (male and female), and your family, except him against whom the Word has already gone forth, and who believe. And none believed with him, except a few."
(Hud : 40)



Kemudian banjir mula surut.


Maksud ayat al-Quran

Dan (setelah binasanya kaum kafir itu) diperintahkan kepada bumi dan langit dengan berkata: "Wahai bumi telanlah airmu, dan wahai langit berhentilah dari curahan hujanmu". Dan (ketika itu) surutlah air, serta terlaksanalah perintah (Allah) itu. Dan bahtera Nabi Nuh itupun berhenti di atas Gunung "Judi", serta diingatkan (kepada kaum kafir umumnya bahawa): "Kebinasaanlah akhirnya bagi orang-orang yang zalim".
(Hud : ayat 44)


Ayat ini menggambarkan bagaimana Allah memerintahkan bumi untuk menelan kembali air yang banyak itu dan langit untuk berhenti menurunkan hujan bagi mengakhiri banjir besar satu dunia.

Ahli sains juga mendapati bahawa bentuk muka bumi di Grand Canyon di Amerika juga adalah antara yang terbentuk hasil dalam peristiwa ini. Ia seolah-olah satu laluan yang sangat besar dan dilihat dari jarak jauh, juga didapati bentuk koyakan yang dijahit. Ia merupakan satu bentuk untuk melalukan air yang terlampau banyak ini menuju ke satu bahagian bumi. Dengan kata lain ia merupakan satu terusan untuk melalukan air supaya kembali surut diserap bumi.



video


Animasi ini mungkin dapat membantu dalam memberi gambaran bagaimana proses penyurutan selepas banjir besar berlaku. Sebahagian air kembali masuk ke bawah lapisan permukaan bumi. Sebahagiannya masih kekal.

Banyak perubahan besar pada bentuk muka bumi yang berlaku selepas kejadian itu. Wujud bukit, gunung, lembah, lurah dan sebagainya akibat pergerakan muka bumi selepas berlaku 'koyakan' besar.

Adakah peristiwa ini juga yang memusnahkan tamadun-tamadun yang terkenal seperti Atlantik? Kota Atlantik dikatakan lenyap kerana satu letupan gunung berapi yang sangat kuat berlaku sehingga memusnahkan pulau yang mereka diami hinggakan tidak ditemui secara sahihnya pada hari ini. Begitu juga dengan Mohenjo-Daro yang dikatakan musnah dalam satu letupan nuklear yang mana kemungkinan loji nuklear mereka musnah akibat malapetaka ini. Tak kurang juga dengan beberapa Lost City yang lain yang digambarkan hebat tamadun dan teknologi mereka.


Peristiwa banjir besar ini berlaku dalam bulan Rejab dan bahtera Nabi Nuh a.s. selamat berlabuh pada 10 Muharram. 6 bulan lamanya berada di atas kapal, sepanjang berlakunya azab Allah dalam membersihkan muka bumi daripada manusia yang kufur terhadapNya. Berikutan peristiwa itu, dengan bahan yang ada seperti kacang-kacang dan gandum-gadum dimasak seperti yang kita kenali sebagai Bubur Asyura. Nabi Nuh a.s. juga berpuasa pada hari tersebut. Pada tarikh 10 Muharram itu juga dikatakan Nabi Musa a.s. bersama Bani Israel berjaya melepaskan diri dari dikejar Firaun di Laut Merah. Maka ia turut menjadi amalan orang Yahudi di mana mereka berpuasa pada 10 Muharram. Pernah Rasulullah s.a.w. bertanya kepada orang Yahudi, kenapa mereka berpuasa pada hari tersebut.

Hadis riwayat Ibnu Abbas ra., ia berkata: “Ketika Rasulullah sallAllahu ‘alaihi wasallam tiba di Madinah, beliau menjumpai orang-orang Yahudi melaksanakan puasa hari Asyura. Ketika ditanyakan tentang hal itu, mereka menjawab: “Hari ini adalah hari kemenangan yang telah diberikan Allah kepada Nabi Musa as. dan Bani Israel atas Firaun. Kerana itulah pada hari ini kami berpuasa sebagai penghormatan padanya.” Mendengar jawapan itu Rasulullah sallAllahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Kami lebih berhak atas Musa dari kalian, maka beliau menyuruh para sahabat untuk berpuasa.” (Shahih Muslim No.1910)

Maka dengan itu terbit amalan sunnah untuk berpuasa pada 9, 10 dan 11 Muharram. Bilangan harinya ditambah atas alasan untuk membezakan dengan amalan orang Yahudi dan juga alasan tambahan seandainya berlaku kesilapan dari segi perhitungan takwim.

"Berpuasalah pada hari 'Asyura (10 Muharram) dan jangalah menyamai perbuatan orang Yahudi; oleh itu berpuasalah sehari sebelum dan sehari sesudahnya." (Riwayat Imam Ahmad)


Selepas peristiwa banjir besar tersebut, dikatakan Nabi Nuh a.s. sembahyang, sujud bertaubat kepada Allah. Tidak lama selepas mendarat dan kehidupan baru dimulakan, Nabi Nuh a.s. diperintahkan Allah untuk membuat pasu dari tanah dalam bilangan yang sangat banyak, mencecah ratusan atau ribuan. Kemudian diarahkannya untuk disusun secara bertingkat dan setelah itu Allah memerintahkan baginda menarik salah satu pasu paling bawah di tengah-tengah susunan pasu-pasu tersebut menyebabkan kesemua pasu yang lain hancur berkecai, tinggallah sebuah pasu yang ditarik Nabi Nuh a.s. Baginda mengeluh kerana diperintahkan membuat perkara yang dilihatnya sia-sia itu. Kemudian Allah menjelaskan begitulah yang baru sahaja diperlakukan terhadap ciptaanNya. Allah telah menjadikan manusia memenuhi muka bumi kemudian Nabi Nuh a.s. memohon kehancuran mereka termasuk hidupan lain di muka bumi. Setelah itu baginda sedar akan kesalahannya lalu bertaubat sehingga akhir hayatnya. Semenjak itu Allah melarang mana-mana nabi untuk memohon kemusnahan secara menyeluruh. Hanya satu-satu kaum sahaja yang dimusnahkan.



Video penuh bagaimana Banjir Besar Nabi Nuh a.s. berlaku